Source image: Gemini ai
Kendaraan listrik (EV) selalu digaungkan sebagai solusi hijau untuk mengurangi emisi karbon. Tapi ada sisi yang jarang dibahas: apa yang terjadi setelah baterainya “pensiun”? China, sebagai pasar EV terbesar dunia, kini menghadapi kenyataan pahit itu.
Pada akhir 2025, sekitar 60 persen penjualan mobil baru di China adalah kendaraan listrik, dan lonjakan ini memicu peningkatan tajam jumlah baterai yang mencapai akhir masa pakainya. Lembaga riset di China memproyeksikan volume baterai EV yang pensiun akan mencapai 1 juta ton pada 2030 sebuah angka yang menurut data lain sebenarnya sudah diperkirakan tembus 1 juta ton per tahun sejak setelah 2025, naik drastis dari sekitar 277.000 ton baterai daya yang dinonaktifkan pada 2022. Ada Masalah untuk Kendaraan Listrik di China +3
Masalahnya bukan cuma soal volume, tapi soal ke mana baterai-baterai itu pergi. Kapasitas fasilitas daur ulang resmi belum mampu menangani volume baterai yang terus meningkat, sehingga banyak baterai akhirnya diproses di tempat tidak resmi yang beroperasi di luar pengawasan pemerintah. Sebagian bahkan dimodifikasi atau dijual kembali tanpa standar keselamatan, sementara baterai yang rusak sering dibuang sembarangan menimbulkan risiko pencemaran tanah, air, serta potensi kebakaran dan ledakan.
Fenomena ini bahkan sudah melahirkan ekonomi bayangan tersendiri: warga menjual mobil listrik lawas mereka ke pengepul baterai informal lewat platform seperti Douyin begitu garansi habis dan biaya ganti baterai baru dianggap tidak sepadan.
Kabar baiknya, teknologi daur ulang China sebenarnya cukup maju. Dalam uji coba, sejumlah perusahaan berhasil memulihkan 96,5 persen litium serta 99,6 persen nikel, kobalt, dan mangan dari baterai bekas. Pemerintah China pun mulai bertindak: produsen EV kini diwajibkan mendirikan stasiun daur ulang limbah baterai, dan baterai wajib tetap melekat pada kendaraan saat dibongkar agar prosesnya bisa diawasi. Regulator juga membangun platform informasi nasional untuk melacak baterai kendaraan energi baru sepanjang siklus hidupnya.
Masalahnya, regulasi ini datang belakangan — setelah gelombang pertama limbah sudah terlanjur beredar di pasar gelap.
Indonesia sedang berada di fase awal booming EV — momen paling tepat untuk menyiapkan sistem sebelum masalahnya membesar seperti di China. Beberapa fakta yang perlu jadi perhatian:
Jepang pun mengalami kekhawatiran serupa: volume limbah baterai EV di sana diperkirakan melonjak dari sekitar 50.000 unit pada 2026 menjadi 400.000 unit pada 2040, mendorong kementerian terkait mulai menyiapkan kebijakan sejak dini — sebuah langkah antisipatif yang sebenarnya bisa dicontoh negara lain, termasuk Indonesia.
Regulasi daur ulang butuh waktu untuk matang. Tapi risiko pencemaran tanah dan air akibat baterai yang bocor atau dibuang sembarangan bisa terjadi kapan saja, di mana saja — termasuk di kawasan industri baterai dan bengkel-bengkel informal.
Di sinilah pentingnya sistem monitoring kualitas air dan lingkungan yang konsisten. Kontaminasi logam berat dari baterai lithium-ion biasanya baru terdeteksi setelah dampaknya meluas — padahal parameter seperti pH, konduktivitas listrik, konsentrasi ion logam, dan kekeruhan air sebenarnya bisa jadi sinyal peringatan dini jika dipantau secara rutin di sekitar fasilitas produksi, pengumpulan, maupun pembuangan baterai bekas.
China sudah membuktikan: pertumbuhan EV yang cepat tanpa kesiapan pengelolaan limbah baterai bisa berubah jadi masalah lingkungan serius dalam waktu singkat. Indonesia masih punya waktu — tapi jendelanya menyempit seiring baterai-baterai pertama mulai memasuki usia pensiun dalam beberapa tahun ke depan. Regulasi, infrastruktur daur ulang, dan sistem monitoring lingkungan perlu berjalan beriringan, bukan menyusul setelah masalahnya muncul.
Sumber