Data Center AI dan Kebutuhan Air:
Dari Jatiluhur hingga Batam

                                                                                                                   Source image: Gemini ai

Pembangunan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia mulai dipersoalkan dari sisi sumber daya air. Pusat data AI menjalankan server dalam jumlah besar yang menghasilkan panas tinggi, sehingga butuh sistem pendingin yang andal. Banyak fasilitas memakai pendingin evaporatif, yaitu sebagian air diuapkan untuk membuang panas dan harus terus diganti dengan pasokan baru. Karena itu konsumsi airnya bisa sangat besar.

Teknologi pendingin tidak sama di setiap fasilitas. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) mengingatkan bahwa data center tidak bisa digeneralisasi seolah semuanya memakai teknologi pendingin, sumber energi, atau konsumsi air yang sama. Jadi besaran dampaknya sangat bergantung pada desain tiap proyek. katadata

Kasus BDx di Jatiluhur, Purwakarta

  • Proyek yang paling banyak disorot adalah pusat data AI milik BDx Data Centers di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Operator asal Singapura ini mulai membangun kompleks berkapasitas 640 megawatt (MW) di sana. katadata

    Kebutuhan air. IESR menyebut kebutuhan air fasilitas ini diperkirakan mencapai 384 liter per detik, setara sekitar 33.000 meter kubik per hari atau lebih dari 12 juta meter kubik per tahun. Angka itu terutama berlaku pada tahap pengembangan berikutnya, bukan kondisi saat ini. Menurut Selular.ID, air tetap berasal dari Jatiluhur, tetapi disalurkan melalui PDAM. katadataselular

Penghentian sementara. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan karena proyek belum memiliki AMDAL dan persetujuan bangunan gedung (PBG). Jadi penyebabnya bukan hanya izin lingkungan, tetapi juga PBG. Ia juga meminta agar keberadaan pusat data tidak mengganggu pemanfaatan air Waduk Jatiluhur bagi petani. katadatakatadata
Skala kebutuhan air. Perhitungan WALHI menunjukkan kebutuhan air proyek ini sekitar 12,045 juta meter kubik per tahun, atau kira-kira 0,20% dari potensi ketersediaan air tahunan Waduk Jatiluhur yang disebut sebesar 6,14 miliar meter kubik. Persentasenya kecil terhadap total waduk. WALHI menambahkan bahwa kebutuhan itu setara dengan sekitar 7,87% alokasi air baku wilayah Karawang, atau kebutuhan air bersih harian lebih dari 220.000 jiwa. Dampaknya karenanya lebih terasa pada alokasi lokal daripada pada total waduk. katadatakatadata

Kasus Batam: Air Waduk Terbatas, Solusinya Desalinasi

Batam menjadi salah satu pusat data di Asia Tenggara karena letaknya dekat Singapura, sementara pasokan airnya rentan, terutama saat kemarau. Menurut kajian yang dikutip Global Voices, sembilan pusat data yang direncanakan di Nongsa Digital Park membutuhkan sekitar 29 juta liter air per hari, dan gabungan fasilitas yang ada serta yang direncanakan diperkirakan memakai sekitar 8% pasokan air Batam. Pada Desember 2024, warga kampung nelayan Teluk Mata Ikan berunjuk rasa di depan fasilitas tersebut karena mereka terus kekurangan air. globalvoicesglobalvoices

Pemerintah menanggapinya dengan jalur desalinasi. Ketua BP Batam Amsakar Achmad menyatakan bahwa persetujuan pembangunan pusat data diberikan dengan syarat pengembang membangun pabrik SWRO (seawater reverse osmosis), yang mengubah air laut menjadi air tawar. Pabrik itu nantinya diserahkan ke BP Batam untuk dikelola, dan kelebihan produksinya berpotensi dipakai untuk kebutuhan warga. Amsakar juga menegaskan bahwa biaya perawatan pabrik SWRO besar sehingga perlu studi kelayakan yang cermat. batam data centers to get seawater desalination plants bp batam +2

Desakan WALHI dan IESR

Dua organisasi menyuarakan tuntutan yang berbeda, dan keduanya sering disatukan dalam satu kalimat:

  • WALHI menyatakan bahwa Indonesia belum punya regulasi khusus untuk pembangunan data center dan infrastruktur AI. Organisasi ini mendesak pemerintah memberlakukan moratorium pembangunan data center sampai regulasi khusus tersedia. katadata
  • IESR menilai kasus Jatiluhur menunjukkan perlunya aturan yang lebih memadai. IESR mengusulkan agar aturan itu mewajibkan sistem pendingin tanpa air (waterless) atau sirkulasi tertutup (closed-loop) untuk mengurangi persaingan dengan kebutuhan rumah tangga dan pertanian. IESR juga mendesak kajian lingkungan dan sosial yang menyeluruh sebelum konstruksi dilanjutkan. Dalam sumber yang saya temukan, IESR tidak menuntut moratorium. katadatakatadata

Sebagai pembanding, WALHI menyebut Malaysia sebagai contoh. Pemerintah negara bagian Johor menerapkan penilaian teknis terhadap proyek data center, termasuk kebutuhan air dan listrik serta kesesuaian lokasi. katadata

Menyeimbangkan Pertumbuhan Digital dan Air

Pemerintah daerah dan pelaku industri berpandangan bahwa pusat data penting bagi ekonomi digital. IDPRO berpendapat bahwa perdebatannya sebaiknya jangan dibingkai sebagai “data center versus lingkungan”. Menurut IDPRO, kajian perlu memperjelas kebutuhan air aktual, sumber air, teknologi pendinginan, tingkat efisiensi, dan pengelolaan air buangan. katadatakatadata

Kasus Jatiluhur dan Batam menunjukkan beberapa hal yang perlu dipastikan sejak tahap perencanaan:

  1. Kebutuhan air dihitung terperinci dan transparan, termasuk tahap pengembangan penuh.
  2. AMDAL dan PBG terpenuhi sebelum konstruksi.
  3. Teknologi pendingin hemat air (closed-loop) atau sumber air alternatif seperti desalinasi dipakai, tanpa mengorbankan jatah air petani dan warga.
  4. Regulasi khusus data center disiapkan, karena aturan yang ada dinilai belum memadai.

 

Catatan Akurasi terhadap Teks Asli

Beberapa poin di gambar yang Anda kirim perlu dikoreksi atau dipertegas:

  • Penghentian proyek BDx karena belum ada AMDAL dan PBG, bukan hanya “izin lingkungan”.
  • Angka 384 liter per detik adalah perkiraan kebutuhan pada tahap pengembangan lanjutan, bukan konsumsi saat ini.
  • Moratorium dituntut WALHI. IESR menuntut regulasi dan pendingin closed-loop, jadi keduanya tidak bisa disamakan.
  • Soal Jatiluhur sebagai sumber air minum Jakarta, saya tidak menemukan sumber yang mendukungnya, jadi tidak saya masukkan. Sumber yang saya pakai hanya menyebut irigasi pertanian dan alokasi air baku wilayah, misalnya Karawang.
  • Sebagian sumber berita tentang kasus ini terbit pada akhir September sampai awal Oktober 2026, jadi perkembangannya masih bisa berubah. Sebelum dipublikasikan, cek lagi status proyek BDx.