Source image: Gemini ai
Pembangunan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia mulai dipersoalkan dari sisi sumber daya air. Pusat data AI menjalankan server dalam jumlah besar yang menghasilkan panas tinggi, sehingga butuh sistem pendingin yang andal. Banyak fasilitas memakai pendingin evaporatif, yaitu sebagian air diuapkan untuk membuang panas dan harus terus diganti dengan pasokan baru. Karena itu konsumsi airnya bisa sangat besar.
Teknologi pendingin tidak sama di setiap fasilitas. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) mengingatkan bahwa data center tidak bisa digeneralisasi seolah semuanya memakai teknologi pendingin, sumber energi, atau konsumsi air yang sama. Jadi besaran dampaknya sangat bergantung pada desain tiap proyek. katadata
Proyek yang paling banyak disorot adalah pusat data AI milik BDx Data Centers di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Operator asal Singapura ini mulai membangun kompleks berkapasitas 640 megawatt (MW) di sana. katadata
Kebutuhan air. IESR menyebut kebutuhan air fasilitas ini diperkirakan mencapai 384 liter per detik, setara sekitar 33.000 meter kubik per hari atau lebih dari 12 juta meter kubik per tahun. Angka itu terutama berlaku pada tahap pengembangan berikutnya, bukan kondisi saat ini. Menurut Selular.ID, air tetap berasal dari Jatiluhur, tetapi disalurkan melalui PDAM. katadataselular
Batam menjadi salah satu pusat data di Asia Tenggara karena letaknya dekat Singapura, sementara pasokan airnya rentan, terutama saat kemarau. Menurut kajian yang dikutip Global Voices, sembilan pusat data yang direncanakan di Nongsa Digital Park membutuhkan sekitar 29 juta liter air per hari, dan gabungan fasilitas yang ada serta yang direncanakan diperkirakan memakai sekitar 8% pasokan air Batam. Pada Desember 2024, warga kampung nelayan Teluk Mata Ikan berunjuk rasa di depan fasilitas tersebut karena mereka terus kekurangan air. globalvoicesglobalvoices
Pemerintah menanggapinya dengan jalur desalinasi. Ketua BP Batam Amsakar Achmad menyatakan bahwa persetujuan pembangunan pusat data diberikan dengan syarat pengembang membangun pabrik SWRO (seawater reverse osmosis), yang mengubah air laut menjadi air tawar. Pabrik itu nantinya diserahkan ke BP Batam untuk dikelola, dan kelebihan produksinya berpotensi dipakai untuk kebutuhan warga. Amsakar juga menegaskan bahwa biaya perawatan pabrik SWRO besar sehingga perlu studi kelayakan yang cermat. batam data centers to get seawater desalination plants bp batam +2
Dua organisasi menyuarakan tuntutan yang berbeda, dan keduanya sering disatukan dalam satu kalimat:
Sebagai pembanding, WALHI menyebut Malaysia sebagai contoh. Pemerintah negara bagian Johor menerapkan penilaian teknis terhadap proyek data center, termasuk kebutuhan air dan listrik serta kesesuaian lokasi. katadata
Pemerintah daerah dan pelaku industri berpandangan bahwa pusat data penting bagi ekonomi digital. IDPRO berpendapat bahwa perdebatannya sebaiknya jangan dibingkai sebagai “data center versus lingkungan”. Menurut IDPRO, kajian perlu memperjelas kebutuhan air aktual, sumber air, teknologi pendinginan, tingkat efisiensi, dan pengelolaan air buangan. katadatakatadata
Kasus Jatiluhur dan Batam menunjukkan beberapa hal yang perlu dipastikan sejak tahap perencanaan:
Catatan Akurasi terhadap Teks Asli
Beberapa poin di gambar yang Anda kirim perlu dikoreksi atau dipertegas: